Menteri Komunikasi dan Informatika
(Menkominfo) Rudiantara mengapresiasi operator telekomunikasi yang sudah
mengkomersialkan layanan 4G-LTE (Long Term Evolution). Menurutnya,
jaringan supercepat itu menjadi salah satu pendukung penerapan rencana
pitalebar Indonesia.
"Pemerintah akan terus mendorong pembangunan 4G-LTE di Indonesia karena ini merupakan broadband plan Indonesia," ujar Rudiantara saat memberikan sambutan peluncuran layanan 4G-LTE oleh XL Axiata di Jakarta, Jumat, 19 Desember.
Mantan
eksekutif di hampir semua perusahaan telekomunikasi itu pun memberi
wejangan kepada para operator telekomunikasi agar layanan 4G ini tidak
hanya untuk bisnis saja.
"Operator harus membangun dua layanan
kepada pelanggan akhir dalam bentuk edukasi, bukan hanya menjual
pelayanan saja," ucap Rudiantara.
Selain itu, ia juga
memperingatkan kepada sejumlah operator agar digelarnya layanan jaringan
generasi keempat itu tidak seperti yang dialami saat membuka jaringan
3G pada 2006 lalu.
"Costumer service-nya sejauh mana. Concern operator itu untuk mendorong agar ekosistem sustainable, tidak seperti 3G di 2006," ujar dia.
Mengenai kompetisi para operator yang mengkomersialkan berbeda-beda kota, ia menuturkan bahwa itu merupakan pertanda baik.
"Biarkan para operator berkompetisi karena mungkin itu akan lebih bagus lagi ke depannya. Ini hanya strategi marketing saja," katanya
sumber : http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/570411-lte-operator-beda-kota--menkominfo--itu-strategi-marketing
Sabtu, 20 Desember 2014
IPv4 Semakin Sesak, Indonesia Harus Segera Beralih ke IPv6
Para penggiat Teknologi Informasi merasa bahwa alamat IP versi 4 (IPv4) sudah berada di ujung masa pemakaiannya. Alamat tersebut akan habis seiring terus tumbuhnya perangkat internet di dunia.
Sanjaya dari Asia Pacific Network Information Center (APNIC) mengungkapkan, kendala penerapan IPv6 di Indonesia saat ini terkendala dengan SDM yang masih belum siap untuk berubah. Oleh karena itu perlu waktu untuk menyadari manfaatnya karena menganggap IPv4 masih bisa digunakan untuk keperluan lain, seperti media sosial atau mengunjungi website.
"Unfortunately, orang mau berubah kalau sudah terbentur tembok. Jadi, sekarang ini kita menunggu tembok itu membentur para engineer ini. Para pengelola jaringan ini kalau sudah terbentur dengan segala keterbatasannya IPv4, baru mereka akan berubah," tutur dia kepada Vivanews di Jakarta beberapa waktu lalu.
Padahal bagi Indonesia, lanjut Sanjaya, bila masih menggunakan teknologi lama akan berimbas tidak hanya peluang usaha melainkan inovasi juga akan terkena dampaknya.
"Risikonya adalah inovasi. Kalau kita tetap menggunakan teknologi lama, bagaimana kita bisa inovasi. Kalau kita pakai teknologi baru dengan IPv6, kesempatan melakukan inovasinya jadi lebih banyak. Jadi, kalau kita nggak pakai teknologi baru, kita akan ketinggalan lagi," ungkapnya.
Dia mengatakan untuk perpindahan dari alamat IP lama dengan yang baru tidak perlu biaya apapun karena kalau sudah menggunakan IPv4, maka IPv6-nya akan didapatkan dengan cuma-cuma. Selain itu pula, perangkat yang tersedia saat ini seperti home router, sudah support IPv6
"Biayanya dimana? Biayanya hanya di pendidikan orangnya saja. Bisa nggak mereka nyalain IPv6. Jadi itu mesti di training. Para engineer tersebut perlu dilatih business dan marketingnya juga untuk menggelar dan melihat IPv6 sebagai kompetitif advantage," kata dia.
Diketahui, negara-negara maju saat ini sedang berlomba untuk menggunakan IPv6. Disampaikan Sanjaya, negara-negara di Asia sedang berusaha menggunakan teknologi baru itu, sedangkan di Amerika Serikat masih sekitar 10 persen penerapannya.
"Jadi ini peluang bagi kita agar tidak ketinggalan lagi," ujarnya.
Kelebihan
IPv6 diketahui memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan terdahulunya, dimana dari segi nomornya lebih banyak dari IPv4.
"Lebih banyak dari IPv4, kalau di IPv4 ada empat miliar nomor, sedangkan di IPv6 ada 320 decillion (10^36) jumlah address-nya," ucap Sanjaya.
Sanjaya melanjutkan, dari segi keamanannya, IPv6 sudah dirancang dengan sistem keamanan yang terbilang kokoh daripada IPv4.
"IPv6 beda dengan IPv4 karena di protokolnya ada fitur-fitur security yang sudah build in di protokolnya," imbuhnya.
Selanjutnya, kata dia, dari segi performance, IPv4 terbilang cukup lelet untuk zaman ini dibandingkan dengan IPv6 yang bisa melesat dengan cepat.
"Ibarat jalan, di IPv4 itu banyak tikungannya, kalau di IPv6 lempeng saja. Jadi, performance akan cepat," kata dia.
Kamis, 11 Desember 2014
Contoh Format Surat Undangan Rapat Seminar
UNIVERSITAS GUNADARMA
Kampus E, Jl. Akses Kelapa Dua Telp. (021) 8710561 Fax. (021) 8727541
KOTA DEPOK
Kode Pos 16951
10 November 2014
No. : 001/UKPTI/KA18/UG/18
Perihal : Undangan Rapat
Lampiran : -
Dengan Hormat,
Sehubungan dengan akan diselenggarakannya acara seminar yang akan dilaksanakan di Universitas Gunadarma dengan tema “Uni Kolaborasi Antara Perguruan Tinggi dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Lulusan”.
Kami mengundang seluruh dosen Universitas
Gunadarma guna mengikuti rapat pada acara seminar nasional dengan tema
sebagaimana telah disebutkan diatas pada pokok surat undangan yang akan
dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal : Selasa, 25 November 2014.
Tempat : Auditorium Universitas Gunadarma gedung 4 lt.6 Depok.
Waktu : 09.00 WIB – selesai.
Demi kelancaran serta suksesnya acara ini, kami mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu selaku dosen Universitas Gunadarma.
Demikian surat undangan ini kami sampaikan. Atas perhatian serta kehadiran pada acara tersebut, kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami, Mengetahui,
Yuliyan Danu Pratama Prof.Dr.E.S Margianti. SE..MM
(Ketua Panitia)
(Rektor Univ. Gunadarma)
Langganan:
Postingan (Atom)